Kaori dikenal sebagai sosok perempuan yang nyaris sempurna di tempat kerja. Wajahnya cantik, penampilannya selalu rapi, dan cara kerjanya begitu profesional sampai membuat banyak karyawan pria diam-diam mengaguminya. Ia juga tegas, mandiri, dan hampir tidak pernah membiarkan urusan pribadi mengganggu pekerjaannya.
Namun, di balik citra sempurna itu, Kaori sebenarnya sedang menghadapi masalah yang cukup bikin pusing. Setiap kali pulang ke rumah, orang tuanya selalu membahas hal yang sama: pernikahan. Mereka terus menanyakan kapan Kaori akan membawa pulang calon suami, bahkan mulai sibuk mencarikan pasangan yang menurut mereka cocok.
Kaori sendiri sama sekali belum tertarik untuk menikah. Baginya, hidupnya saat ini sudah nyaman dan ia tidak ingin terburu-buru mengikat diri hanya demi memenuhi harapan keluarga. Sayangnya, segala penjelasan yang ia berikan selalu dianggap sebagai alasan. Karena sudah lelah menghadapi tekanan yang sama berulang kali, Kaori akhirnya nekat membuat sebuah rencana.
Ia meminta seorang rekan kerja pria yang usianya lebih muda untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Pria itu awalnya kebingungan dan sempat menolak, apalagi Kaori menyampaikan permintaan tersebut dengan nada tegas seolah sedang memberikan tugas kantor. Namun, karena beberapa alasan, ia akhirnya setuju mengikuti permainan tersebut.
Kaori pun membawanya pulang dan memperkenalkannya kepada keluarga sebagai pacar serius. Demi membuat sandiwara mereka terlihat meyakinkan, keduanya harus tampil mesra di depan orang tua Kaori. Mereka mulai saling memanggil dengan panggilan manis, bergandengan tangan, duduk berdekatan, sampai melakukan berbagai kontak fisik yang sebenarnya membuat suasana menjadi canggung.
Masalahnya, semakin lama mereka menjalani hubungan pura-pura itu, batas antara akting dan perasaan sungguhan mulai terasa kabur. Sentuhan yang awalnya hanya bagian dari sandiwara perlahan terasa semakin alami. Tatapan mereka bertahan sedikit lebih lama, obrolan kecil menjadi semakin personal, dan kebersamaan yang tadinya terpaksa justru mulai terasa menyenangkan.
Kaori yang biasanya selalu tenang dan terkendali mulai dibuat salah tingkah oleh perhatian sederhana dari pria yang lebih muda itu. Sementara sang rekan kerja juga mulai melihat sisi lain Kaori yang selama ini tidak pernah terlihat di kantor—sisi yang lebih rapuh, manja, dan ternyata sangat menggemaskan.
Hubungan palsu yang awalnya hanya dirancang untuk membungkam pertanyaan orang tua pun perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa mereka bukan hanya cocok saat berpura-pura menjadi pasangan, tetapi juga memiliki chemistry yang sulit diabaikan.
Kini, Kaori harus menentukan apakah ia akan menghentikan sandiwara tersebut sebelum semuanya menjadi semakin serius, atau justru mengakui bahwa pacar palsunya mungkin adalah orang yang benar-benar ia butuhkan selama ini.























